Grades Don’t Measure Intelligence

IMG_17552923546543Sejak mulai mengenal sekolah dan tuntutan akademis, saya sadar bahwa Aa Dafa bukanlah anak yang menonjol dalam hal pelajaran sekolah. Ketika ibu-ibu lain bangga saat anak-anak mereka bisa baca tulis diusia 3-4 tahun, saya hanya bisa tersenyum kecil karena saat itu si Aa belum menunjukkan minat calistung. Saya sendiri belum merasa punya urgensi untuk membuatnya cepat lancar membaca atau menulis, jadi saya relatif santai dan cuek saja. Juga ketika ada lomba calistung atau lomba bahasa inggris dan Dafa tidak pernah sekalipun ditunjuk sebagai perwakilan sekolah, saya pun tidak merasa bersedih hati. Sederhananya pemikiran saya adalah karena saya tau : grades don’t measure intellegence.

Begitupun saat menginjak bangku SD ini. Prestasinya biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Kalau ibu-ibu lain mungkin rajin periksa buku catatan dan buku paket anak-anak mereka tiap malam, saya tidak pernah melakukan itu. Hehehe. Ya jujur aja, emang saya pemales sih untuk urusan itu. Juga karena saya sadar, dulu semasa sekolah pun saya bukan murid yang pinter-pinter amat. Jadi sayapun tidak pernah menuntut Dafa untuk selalu membawa hasil ulangan dengan nilai tinggi atau setiap malam mengulang pelajaran dari sekolah. Belajar sejak pukul 08.00-14.00 bagi seorang anak usia 8 tahun rasanya sudah cukup.

Ketakutan jika ia ketinggalan pelajaran sih tentu saja ada. Karenanya saya sebisa mungkin selalu berkomunikasi dengan wali kelasnya sesering mungkin. Seperti kemarin ketika saya mendapati beberapa hasil UTS-nya mendapat nilai yang…ya…gitu deh. Hehehe. Bagi saya sebenernya bukan masalah Dafa harus dapet nilai sempurna. Asalkan dia mengerti konsep yang diajarkan, bagi saya cukup. Dan saya berharap pihak sekolah cukup bijaksana untuk menilai murid tidak hanya dari nilai ulangan atau ujiannya saja.

mtf_JkrXM_174Alhamdulillah, setelah berbincang cukup lama dengan wali kelasnya, saya merasa sedikit tenang. Jawaban beliau sangat menenangkan : ‘Fatih itu sebenernya kalo secara konsep mengerti, Bun. Konsep perkalian adalah penjumlahan berulang, dia tau. Konsep perkalian bersusun juga dia paham, walau kadang masih sering lupa. Hanya saja, dia sering sekali melamun. Sepertinya pikirannya sedang berada ditempat lain. Termasuk ketika ulangan/ujian. Tapi, saya memperhatikan dia cukup tenang dan yakin setiap ulangan. Jarang sekali tengok kiri-kanan. Kalau ada yang dia tidak mengerti, dia akan bertanya pada gurunya. Bagi saya ini nilai plus, karena saya sendiri selalu mengajarkan pada anak-anak untuk percaya pada kemampuan sendiri. Lebih baik dapat nilai kecil tapi hasil sendiri daripada nilai besar tapi hasil nyontek punya teman. Diluar akademis, saya perhatikan Fatih sangat senang berbagi dan tidak pelit. Kalau bawa bekal, tidak pernah pelit kalau ada temannya yang minta. Bahkan kadang terlalu murah hati sampai rela dia tidak jajan asalkan temennya bisa jajan dari uang sakunya…’  

Jadi Nak, jika suatu saat kamu membaca tulisan ini, Bunda berharap saat itu akhlakmu sudah terbentuk sempurna. Bunda tidak akan pernah memintamu pulang kerumah dengan nilai sempurna. Bunda hanya memintamu agar terus menjadi anak yang murah hati, rendah hati, senang berbagi, dan percaya bahwa apapun bisa kamu raih selama kamu yakin dengan kemampuanmu dan bahwa Allah akan selalu membimbing langkahmu. Aamiin.

My Betterhalf

20140316_124108Bagi yang mengenal atau pernah bertemu suami saya, pasti sepakat kalo dia punya pembawaan yang cukup kalem. Dan tenang. Serta pendiam. Walaupun untuk yang terakhir kadang saya ngga sepakat, soalnya suami saya itu kalo udah ketemu orang yang ‘klik’ pasti bakal merepet juga ngomongnya. Walau emang kebalikan dari saya sih. Saya mah klik ngga klik, biasanya merepet2 aja, heuheu.

Selain kalem, tenang, dan (agak) pendiam itu, suami saya juga punya satu sifat yang saya kenal banget: Lempeng. Iya, dia lempeng dan luruuuuus sekali. Dalam banyak hal tentu saja saya bersyukur. Artinya dia ngga neko2 soal aturan apalagi pekerjaan, apalagi uang. Tapi kadang, sering pengen juga dia rada ‘ngga lurus’ terutama untuk urusan romantisme, hehehe.

Begitulah, suami saya tidak pernah romantis2an. Jarang sekali bersikap manis, jarang sekali mengucapkan kalimat ‘I Love You’ kalo tidak didahului oleh saya. Apalagi ngasih kado utk ulangtahun, kado anniversary, atau sentimental things lainnya. Dia ya gitu lempeng aja. Kadang2 kalo ngga diingetin juga lupa tanggal ultah istrinya, ultah pernikahan dsb.

Sebenernya gpp sih. Bukan berarti itu hal yang pentiiiiiing banget buat saya. Dia seperti itu adanya, ya saya terima dia apa adanya. Mungkin juga barangkali karena dasarnya saya lebih romantis dan suka nonton pelem2nya Hugh Grant *jangan tanya apa hubungannya*, saya tidak pernah keberatan berinisiatif memulai momen2 romantis bersamanya.

Dulu, waktu masih jaman main di Facebook, saya sering menulis kalimat2 sayang di wall-nya. Atau sebelum jaman BBM melanda, saya sering juga mengirimkan SMS kalimat I Love You atau I Miss You. Kadang dibales, kadang ngga. Walau balesannya cuma: I Love You too atau I Miss You too, hehehe. Kalo ngga dibales, saya suka protes. Kok ngga dibales sih? Dia biasanya bilang: Yaah maaf tadi lagi meeting.

Bukan berarti dia ngga pernah jadi romantis sih. Dulu waktu masih pacaran dia suka nulis puisi atau nulis sesuatu tentang hubungan kami di blognya. Salah satunya INI. Dan INI. Tapi seiring waktu, life happens, dan yaaah dia menjadi sibuk menjadi kepala keluarga, mencari nafkah untuk istri dan anak2nya. I’m not complaint, though. It’s a romanticm also in my definition 🙂

Kenapa saya menuliskan ini? Tiba2 saja saya teringat salah satu komentar teman kami yang membaca wall to wall yang saya kirimkan untuk suami saya. Intinya, dia ‘mentertawai’ keromatisan kami yang menurutnya diumbar ke publik, hehehe. Yah memang saya menuliskan sebaris kalimat: I love you. But that was it. Entah mungkin sebagian orang risih membacanya atau gimana ya, hehehe.

Tapi ya sudahlah. Saya tidak ambil pusing. Kata orang, sayangilah orang2 di sekelilingmu sebaik2nya karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di esok hari. Teringat Angelina Sondakh yang tiba2 ditinggal Adjie Massaid dan Widyawati yang mendadak ditinggal Sophan Sophiaan, saya merasa perlu mengucapkan kalimat2 cinta pada mereka yang saya sayangi setiap hari. Pada suami, dan anak2 saya. Hanya sekedar mengingatkan, betapa bahagianya saya berada ditengah2 mereka. Dan bahwa saya masih memiliki hari ini. Bersama mereka.

Jadi, sudahkah anda mengucapkan cinta pada orang2 terkasih anda, hari ini? 🙂