My Betterhalf

20140316_124108Bagi yang mengenal atau pernah bertemu suami saya, pasti sepakat kalo dia punya pembawaan yang cukup kalem. Dan tenang. Serta pendiam. Walaupun untuk yang terakhir kadang saya ngga sepakat, soalnya suami saya itu kalo udah ketemu orang yang ‘klik’ pasti bakal merepet juga ngomongnya. Walau emang kebalikan dari saya sih. Saya mah klik ngga klik, biasanya merepet2 aja, heuheu.

Selain kalem, tenang, dan (agak) pendiam itu, suami saya juga punya satu sifat yang saya kenal banget: Lempeng. Iya, dia lempeng dan luruuuuus sekali. Dalam banyak hal tentu saja saya bersyukur. Artinya dia ngga neko2 soal aturan apalagi pekerjaan, apalagi uang. Tapi kadang, sering pengen juga dia rada ‘ngga lurus’ terutama untuk urusan romantisme, hehehe.

Begitulah, suami saya tidak pernah romantis2an. Jarang sekali bersikap manis, jarang sekali mengucapkan kalimat ‘I Love You’ kalo tidak didahului oleh saya. Apalagi ngasih kado utk ulangtahun, kado anniversary, atau sentimental things lainnya. Dia ya gitu lempeng aja. Kadang2 kalo ngga diingetin juga lupa tanggal ultah istrinya, ultah pernikahan dsb.

Sebenernya gpp sih. Bukan berarti itu hal yang pentiiiiiing banget buat saya. Dia seperti itu adanya, ya saya terima dia apa adanya. Mungkin juga barangkali karena dasarnya saya lebih romantis dan suka nonton pelem2nya Hugh Grant *jangan tanya apa hubungannya*, saya tidak pernah keberatan berinisiatif memulai momen2 romantis bersamanya.

Dulu, waktu masih jaman main di Facebook, saya sering menulis kalimat2 sayang di wall-nya. Atau sebelum jaman BBM melanda, saya sering juga mengirimkan SMS kalimat I Love You atau I Miss You. Kadang dibales, kadang ngga. Walau balesannya cuma: I Love You too atau I Miss You too, hehehe. Kalo ngga dibales, saya suka protes. Kok ngga dibales sih? Dia biasanya bilang: Yaah maaf tadi lagi meeting.

Bukan berarti dia ngga pernah jadi romantis sih. Dulu waktu masih pacaran dia suka nulis puisi atau nulis sesuatu tentang hubungan kami di blognya. Salah satunya INI. Dan INI. Tapi seiring waktu, life happens, dan yaaah dia menjadi sibuk menjadi kepala keluarga, mencari nafkah untuk istri dan anak2nya. I’m not complaint, though. It’s a romanticm also in my definition 🙂

Kenapa saya menuliskan ini? Tiba2 saja saya teringat salah satu komentar teman kami yang membaca wall to wall yang saya kirimkan untuk suami saya. Intinya, dia ‘mentertawai’ keromatisan kami yang menurutnya diumbar ke publik, hehehe. Yah memang saya menuliskan sebaris kalimat: I love you. But that was it. Entah mungkin sebagian orang risih membacanya atau gimana ya, hehehe.

Tapi ya sudahlah. Saya tidak ambil pusing. Kata orang, sayangilah orang2 di sekelilingmu sebaik2nya karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di esok hari. Teringat Angelina Sondakh yang tiba2 ditinggal Adjie Massaid dan Widyawati yang mendadak ditinggal Sophan Sophiaan, saya merasa perlu mengucapkan kalimat2 cinta pada mereka yang saya sayangi setiap hari. Pada suami, dan anak2 saya. Hanya sekedar mengingatkan, betapa bahagianya saya berada ditengah2 mereka. Dan bahwa saya masih memiliki hari ini. Bersama mereka.

Jadi, sudahkah anda mengucapkan cinta pada orang2 terkasih anda, hari ini? 🙂